Cara Menentukan Prioritas Perencanaan Keuangan: Nabung atau Investasi Dulu?
Banyak orang yang baru memulai perjalanan finansial sering terjebak dalam dilema klasik. Dengan dana terbatas, mana yang harus didahulukan, menabung di bank atau langsung berinvestasi untuk mengejar keuntungan?
Memprioritaskan menabung untuk dana darurat dan melunasi utang konsumtif terlebih dahulu sebelum memulai investasi adalah pilihan yang tepat. Penetapan prioritas ini sangat fundamental namun sering diabaikan oleh pemula yang tergiur keuntungan instan. Investasi selalu disertai risiko fluktuasi nilai, sedangkan tabungan dana darurat berfungsi sebagai fondasi keamanan yang menjaga likuiditas.
Jika Anda memaksakan diri berinvestasi tanpa memiliki tabungan tunai, ibarat membangun rumah mewah di atas tanah rawa yang labil. Saat badai ekonomi datang seperti sakit mendadak, kerusakan kendaraan, atau pemutusan hubungan kerja, Anda akan terpaksa mencairkan aset investasi. Jika saat itu pasar sedang turun, Anda akan mengalami kerugian ganda yaitu kehilangan potensi keuntungan masa depan dan merealisasikan kerugian saat ini.
Segera amankan kondisi saat ini dengan menabung dan proteksi, baru kemudian amankan masa depan melalui investasi. Langkah ini bukan sekadar urutan praktis, tetapi merupakan fondasi dari konsep piramida perencanaan keuangan yang akan kita bahas selanjutnya. Piramida ini membantu Anda memahami prioritas finansial secara terstruktur sehingga setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat.
Memahami Konsep Piramida Perencanaan Keuangan
Untuk memvisualisasikan prioritas ini secara sistematis, para perencana keuangan profesional menggunakan konsep yang disebut Piramida Perencanaan Keuangan.
Konsep ini mengadopsi prinsip hierarki kebutuhan Maslow, di mana kebutuhan dasar harus terpenuhi secara kokoh sebelum seseorang naik ke tingkat selanjutnya. Bayangkan struktur ini seperti bangunan fisik. Anda tidak mungkin memasang atap yang indah jika pondasi dan temboknya belum berdiri tegak.
Berikut komponen penting yang harus diperhatikan:
-
Manajemen Arus Kas (Cash Flow)
Langkah pertama dalam mengatur keuangan adalah memastikan pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Anda harus bisa menyisihkan penghasilan bulanan. Tanpa cash flow positif, Anda tidak akan pernah bisa menabung, apalagi berinvestasi. Kuncinya adalah mencatat pengeluaran secara disiplin untuk mendeteksi di mana letak pengeluaran-pengeluaran dari dompet Anda.
-
Manajemen Utang
Langkah selanjutnya adalah melunasi utang konsumtif (kartu kredit, pinjaman daring, paylater). Bunga pinjaman konsumtif seringkali sangat mencekik, bisa mencapai 20–30% per tahun atau bahkan lebih. Sangat sulit mencari instrumen investasi legal yang bisa memberikan keuntungan pasti di atas angka bunga utang tersebut. Jadi, melunasi utang adalah "investasi" terbaik dengan keuntungan pasti.
Baca Juga : Utang Produktif dan Utang Konsumtif : Apa Perbedaannya?
-
Dana Darurat
Dana darurat adalah uang tunai yang disisihkan khusus untuk kejadian tak terduga. Bagi seorang lajang, idealnya memiliki 3–6 kali pengeluaran bulanan. Bagi yang sudah berkeluarga, angka amannya adalah 6–12 kali pengeluaran bulanan. Dana ini harus disimpan di instrumen yang sangat likuid dan rendah risiko dengan skema penarikan tunai mudah, seperti tabungan bank terpisah atau Reksadana Pasar Uang, bukan di saham atau kripto yang fluktuatif.
-
Manajemen Risiko (Asuransi)
Setelah punya tabungan, Anda perlu "pagar" untuk menjaganya. Asuransi kesehatan (seperti BPJS Kesehatan atau asuransi swasta) berfungsi melindungi tabungan Anda agar tidak ludes seketika saat Anda harus rawat inap di rumah sakit.
-
Investasi
Saat berinvestasi, gunakan uang dingin (uang yang benar-benar tidak dipakai untuk kebutuhan pokok) untuk membeli aset produktif. Anda bisa memilih Sukuk Ritel (SBN), Reksadana Syariah, Saham syariah, atau Emas. Beberapa instrumen memiliki prinsip “High Risk High Return”. Jadi jangan pernah tergiur keuntungan instan yang tidak masuk akal tanpa memahami risiko di baliknya.
-
Warisan dan Hibah
Merencanakan bagaimana aset dialihkan kepada ahli waris untuk mencegah sengketa keluarga di masa depan. Dokumen legal seperti wasiat atau perjanjian hibah akan memastikan distribusi berjalan sesuai keinginan Anda dan menghindari konflik yang bisa merusak hubungan keluarga.
Kesalahan Dalam Perencanaan Keuangan
Mengapa banyak yang gagal mengikuti tahapan piramida ini? Hal ini dikarenakan adanya beberapa jebakan psikologis yang sering menjerat Generasi Z dan Milenial:
-
Fenomena Doom Spending
Doom spending menggambarkan perilaku belanja impulsif untuk barang mewah atau pengalaman sesaat karena rasa pesimis terhadap kondisi ekonomi makro. Banyak anak muda berpikir, "Harga rumah makin tak terjangkau, buat apa nabung capek-capek? Mending uangnya dipakai senang-senang sekarang."
Akibatnya, uang habis untuk barang branded, kopi kekinian, atau traveling impulsif. Mereka melompati tahap Keamanan dan langsung ke pengeluaran konsumtif. Saat terjadi gelombang PHK atau krisis, mereka adalah kelompok yang paling rentan turun status ekonominya karena tidak punya bantalan dana sama sekali.
-
FOMO Investasi Tanpa Ilmu
Banyak pemula yang langsung melompat ke puncak investasi berisiko tinggi (seperti Aset Kripto atau Saham Gorengan) hanya karena melihat teman pamer cuan di media sosial.
Mereka berinvestasi menggunakan uang belanja, atau lebih parah lagi, uang hasil pinjaman (leverage). Ini melanggar prinsip dasar investasi “Gunakan Uang Dingin”. Saat aset tersebut turun nilainya, mental mereka hancur dan utang menumpuk, menyebabkan kredit macet di kalangan usia muda meningkat drastis.
-
Menyepelekan Pengeluaran Kecil
Pengeluaran kecil yang rutin seringkali tidak terasa membebani. Kopi susu Rp 25.000 setiap hari, biaya langganan aplikasi streaming yang jarang ditonton, atau ongkos kirim makanan online.
Jika diakumulasi, nilainya bisa mencapai jutaan rupiah per bulan. Kebocoran halus inilah yang sering membuat seseorang merasa gajinya cuma numpang lewat sehingga merasa tidak mampu menyisihkan uang untuk dana darurat.
Baca Juga : Impulse Buying dalam Perspektif Islam: Memahami dan Menghindarinya
Bagaimana Pandangan Islam Terkait Keamanan Finansial?
Setelah memahami logika teknisnya, penting bagi seorang Muslim untuk melihat perspektif agama. Prinsip "mendahulukan keamanan (menabung) sebelum pengembangan (investasi)" ternyata sangat selaras dengan nilai-nilai syariah.
Al-Qur'an secara eksplisit mengajarkan manajemen krisis dan pentingnya dana darurat melalui kisah Nabi Yusuf A.S. Dalam Al-Qur'an Surah Yusuf ayat 47-49, Nabi Yusuf memberikan takwil mimpi dan strategi ekonomi kepada Raja Mesir:
"Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya..." (QS. Yusuf: 47-48).
Para ulama dan ahli ekonomi Islam menafsirkan ayat ini sebagai dalil kuat tentang prinsip kehati-hatian. Nabi Yusuf memerintahkan untuk melakukan efisiensi konsumsi dan menyimpan surplus hasil panen di masa subur sebagai cadangan logistik untuk menghadapi masa sulit yang akan datang. Ini adalah konsep dasar Dana Darurat dalam Islam, menahan diri hari ini demi keamanan esok hari.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya meninggalkan keluarga dalam keadaan berkecukupan secara materi. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqas:
"Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia." (HR. Bukhari dan Muslim).4
Hadits ini menegaskan bahwa memiliki tabungan, aset, dan asuransi (dalam bentuk warisan) bukanlah bentuk ketamakan atau ketidakyakinan pada rezeki Allah, melainkan bentuk tanggung jawab seorang Muslim terhadap keluarganya. Islam melarang umatnya menjadi beban bagi orang lain akibat kesalahan pengelolaan harta.
Melunasi utang adalah Wajib, menafkahi keluarga adalah Wajib, sedangkan mengejar keuntungan investasi tambahan hukumnya Mubah atau Sunnah (jika untuk kebaikan). Secara syariah, kita tidak boleh mendahulukan yang sunnah dengan mengorbankan yang wajib. Maka, lunasi utang dan amankan nafkah keluarga (dana darurat) harus didahulukan sebelum investasi.
Mulailah dengan membangun fondasi. Disiplinkan diri mencatat pengeluaran, lunasi utang konsumtif yang mencekik, dan kumpulkan dana darurat hingga jumlah yang ideal. Proses ini mungkin terasa membosankan dan tidak sekeren "trading saham", namun inilah yang akan menyelamatkan Anda saat badai ekonomi datang.
Barulah setelah fondasi itu kokoh, Anda bisa melangkah gagah ke dunia investasi untuk mengembangkan kekayaan. Dengan urutan yang benar, perjalanan finansial Anda tidak hanya akan menguntungkan secara materi, tetapi juga menenangkan secara batin dan bernilai ibadah.
Ingin memperluas wawasan Anda dengan artikel serupa? Kunjungi Sharia Knowledge Center dan temukan berbagai insight menarik seputar ekonomi serta keuangan syariah untuk menambah pengetahuan Anda.
Frequently Asked Questions (FAQ)
-
Q: Apakah boleh menabung dana darurat di Emas?
A: Boleh, namun disarankan tidak seluruhnya. Emas adalah instrumen lindung nilai yang baik, tetapi memiliki selisih harga jual-beli (spread) dan butuh proses fisik untuk dijual (harus ke toko). Sebaiknya, bagi dana darurat Anda: 50% di rekening bank terpisah atau Reksadana Pasar Uang (untuk kebutuhan mendesak hitungan jam), dan 50% dalam bentuk Emas (untuk cadangan jangka menengah).
-
Q: Berapa persen gaji yang ideal untuk ditabung?
A: Rumus yang umum digunakan adalah 50/30/20
50% untuk kebutuhan pokok (Living), 30% untuk keinginan (Playing), dan 20% untuk masa depan (Saving/Investing). Namun, jika Anda sedang mengejar target dana darurat atau melunasi utang, porsi 20% ini sebaiknya diperbesar dengan mengurangi porsi keinginan. -
Q: Saya punya utang KPR Rumah, apakah harus lunas dulu baru boleh investasi?
A: Tidak harus. Utang KPR adalah utang produktif jangka panjang. Anda bisa berinvestasi sambil membayar cicilan KPR, asalkan cicilan tersebut lancar, rasio utang tidak melebihi 30% gaji, dan Anda sudah memiliki dana darurat yang cukup. Yang wajib dilunasi sebelum investasi adalah utang konsumtif berbunga tinggi seperti pinjol atau kartu kredit.
-
Q: Kapan waktu terbaik mulai investasi?
A: Segera setelah Anda memiliki Dana Darurat minimal 3 bulan pengeluaran. Jangan menunda lebih lama dari itu, karena inflasi akan terus menggerus nilai uang Anda jika hanya didiamkan di tabungan biasa.
Sumber :
