Daftar Isi :
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah dan sosial. Melalui zakat, Islam mengatur mekanisme distribusi harta demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi umat.
Untuk mendukung pelaksanaan zakat agar tertib dan sesuai ketentuan syariat, diperlukan pihak yang bertugas mengelola zakat dengan amanah dan sistematis. Dalam Islam, pihak tersebut dikenal sebagai amil zakat.
Amil zakat bukan sekadar pelaksana teknis, melainkan bagian integral dari sistem zakat dalam Islam. Amil zakat berperan menjadi penghubung antara muzaki dan mustahik guna mewujudkan tujuan zakat yang optimal.
Islam menetapkan kriteria tertentu bagi seseorang atau lembaga agar dapat disebut sebagai amil zakat. Ketentuan ini bertujuan memastikan pengelolaan zakat tetap berada dalam koridor syariat. Simak penjelasan lengkap mengenai pengertian amil zakat, tugas, dan syaratnya menurut Islam berikut ini.
Pengertian Amil Zakat dalam Islam
Mengutip situs Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), amil zakat merupakan pihak yang bertugas melakukan pengelolaan zakat, baik penghimpunan, pendistribusian, maupun pendayagunaan zakat kepada mustahik.
Pada masa Rasulullah ., amil zakat ditunjuk untuk mengumpulkan harta zakat dari umat, termasuk hasil pertanian, perdagangan, hewan ternak, hingga emas dan perak. Selanjutnya, zakat tersebut disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf) sebagaimana diamanatkan dalam Al-Qur’an QS. At-Taubah ayat 60:
اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Baca juga: 8 Istilah Terkait Pihak-Pihak yang Berhak Menerima Zakat (Mustahik)
Tugas dan Tanggung Jawab Amil Zakat Menurut Syariat Islam
Sebagai pihak yang diberi amanah mengelola zakat, amil zakat memiliki sejumlah tugas yang harus dilaksanakan sesuai ketentuan syariat, antara lain sebagai berikut.
1. Menghimpun Zakat dari Muzaki
Amil zakat bertugas menghimpun zakat dari para wajib zakat (muzaki). Dalam prosesnya, amil harus memastikan jenis dan jumlah zakat yang dikeluarkan telah sesuai ketentuan syariat, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Selain itu, amil wajib melakukan pencatatan sebagai bentuk transparansi.
2. Mengelola Zakat Secara Amanah dan Profesional
Setelah zakat dihimpun, amil zakat bertanggung jawab mengelola harta zakat yang mencakup penyimpanan, pembukuan, hingga perencanaan pendayagunaan zakat. Amil perlu memastikan zakat dikelola secara aman sebelum disalurkan kepada penerima.
3. Mendistribusikan Zakat kepada Mustahik
Amil zakat bertugas menyalurkan zakat kepada mustahik yang terdiri atas delapan golongan (asnaf) sesuai ketentuan Al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, distribusi zakat harus dilakukan secara adil dan tepat sasaran.
4. Memberikan Edukasi Terkait Zakat
Selain tugas teknis, amil zakat juga memiliki peran edukatif, yakni meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kewajiban, tata cara, dan hikmah zakat guna mendorong kesadaran berzakat.
5. Menyusun Laporan dan Pertanggungjawaban Pengelolaan Zakat
Sebagai bentuk akuntabilitas, amil zakat bertugas menyusun laporan pengelolaan zakat yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan demi menjaga kepercayaan muzaki.
Syarat-Syarat Menjadi Amil Zakat yang Sah
Dikutip dari situs BAZNAS, terdapat beberapa syarat yang wajib dipenuhi untuk menjadi amil zakat. Syarat-syarat tersebut di antaranya:
1. Beragama Islam
Amil zakat wajib beragama Islam karena zakat merupakan ibadah dan bagian dari rukun Islam.
2. Balig dan Berakal
Amil zakat diwajibkan sudah dewasa dan memiliki akal yang sehat agar mampu menjalankan tanggung jawab pengelolaan zakat dengan baik.
3. Jujur dan Amanah
Amil zakat harus mampu menjaga amanah, kejujuran, dan integritas dalam menjalankan tugasnya demi menghindari terjadinya penyalahgunaan zakat.
4. Adil
Amil zakat diwajibkan bersikap adil dalam menyalurkan zakat kepada mustahik. Zakat harus diberikan kepada penerima yang berhak, bukan atas dasar kepentingan tertentu.
5. Memiliki Pemahaman Dasar tentang Zakat
Amil perlu memiliki pemahaman dasar mengenai aturan-aturan zakat, termasuk nisab dan haul, serta siapa saja yang masuk golongan penerima zakat.
6. Memiliki Kemampuan Administratif dan Manajerial
Amil zakat tidak hanya bertugas mengumpulkan zakat, tetapi juga bertanggung jawab dalam pencatatan dan pendistribusian. Oleh sebab itu, dibutuhkan kemampuan administratif dan manajerial untuk mendukung pelaksanaan tugasnya.
Baca juga: Memahami Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal: Kewajiban dan Tata Cara Pelaksanaan
Hak Amil Zakat
Selaras dengan QS. At-Taubah ayat 60, amil zakat juga termasuk dalam golongan penerima zakat (asnaf). Hal ini menegaskan bahwa peran amil diakui secara syariat sebagai bagian penting dari sistem distribusi zakat.
Oleh karenanya, amil zakat berhak memperoleh ujrah al-mitsl atau upah yang sepadan dengan pekerjaannya dari bagian zakat yang diperuntukkan bagi amil. Sejumlah ulama menyebutkan bahwa besaran hak amil maksimal seperdelapan atau 12,5 persen dari total zakat, menyesuaikan pembagian delapan asnaf.
Ketentuan ini juga diperkuat melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 606 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa penggunaan hak amil dari dana zakat tidak melebihi seperdelapan atau 12,5 persen total penghimpunan dalam setahun dan tidak terjadi pengambilan hak amil ganda dalam konteks penyaluran.
Namun, terdapat pula pandangan ulama yang membolehkan penyesuaian besaran hak amil berdasarkan kebutuhan operasional, selama tidak berlebihan atau merugikan mustahik lainnya.
Peran dan Kedudukan Amil Zakat
Dalam praktik saat ini, peran amil zakat umumnya dijalankan melalui lembaga zakat resmi dan profesional yang mengedepankan prinsip transparansi serta akuntabilitas. Lembaga ini berperan memastikan proses penghimpunan hingga pendistribusian zakat berjalan sesuai aturan syariat.
Amil zakat tidak dapat dipandang sebagai petugas teknis semata, tetapi bagian penting dari sistem pemerataan ekonomi dalam Islam, yang berkontribusi nyata dengan menyalurkan zakat secara tepat sasaran dan berkelanjutan.
Keberadaan amil yang amanah dan kompeten menjadi salah satu kunci terwujudnya keberkahan zakat. Memahami peran amil zakat juga merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan literasi keuangan syariah agar zakat dapat ditunaikan dengan tepat dan optimal.
Tertarik mempelajari topik-topik Islami lainnya? Kunjungi Sharia Knowledge Centre by Prudential Syariah untuk menemukan berbagai informasi Islami menarik seputar keuangan, kesehatan, hingga gaya hidup yang dapat memperluas wawasan Anda.
Frequently Ask Questions (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan amil zakat dalam Islam?
Amil zakat adalah pihak yang diberi amanah untuk mengelola zakat, mulai dari penghimpunan, pengelolaan, hingga pendistribusian zakat kepada mustahik. Keberadaan amil zakat merupakan bagian integral dari sistem zakat dalam Islam dan diakui secara syariat.
Apa saja tugas utama amil zakat?
Tugas amil zakat meliputi menghimpun zakat dari muzaki, mengelola dana zakat secara amanah dan profesional, mendistribusikan zakat kepada mustahik, memberikan edukasi terkait zakat, serta menyusun laporan pertanggungjawaban pengelolaan zakat.
Siapa saja yang berhak menjadi amil zakat?
Seseorang atau lembaga dapat menjadi amil zakat apabila memenuhi syarat, antara lain beragama Islam, balig dan berakal, jujur dan amanah, bersikap adil, memiliki pemahaman dasar tentang zakat, serta memiliki kemampuan administratif dan manajerial.
Apakah amil zakat berhak menerima bagian dari dana zakat?
Ya. Amil zakat termasuk dalam golongan penerima zakat (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60. Mereka berhak menerima ujrah al-mitsl atau upah yang sepadan dengan tugasnya dari bagian zakat yang diperuntukkan bagi amil.
Berapa batas maksimal hak amil zakat yang boleh diambil?
Dalam praktik di Indonesia, hak amil zakat dibatasi maksimal 12,5 persen atau seperdelapan dari total dana zakat, sesuai pembagian delapan asnaf. Ketentuan ini juga diperkuat melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 606 Tahun 2020.
Sumber:
- Bagaimana zakat dikelola? Ini peran dan tanggung jawab amil zakat. (2025). ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/4707585/bagaimana-zakat-dikelola-ini-peran-dan-tanggung-jawab-amil-zakat
- Mengenal Amil Zakat: Tugas, Syarat, dan Haknya. (2025). BAZNAS Kota Kediri. https://kotakediri.baznas.go.id/artikel/show/mengenal-amil-zakat-tugas-syarat-dan-haknya/28111
- Sejarah dan Makna Zakat Dalam Islam. (2025). BAZNAS Provinsi Sulawesi Selatan. https://sulsel.baznas.go.id/artikel/show/sejarah-dan-makna-zakat-dalam-islam/26815
- Siapa Saja yang Berhak Menerima Zakat? Memahami 8 Asnaf secara Kontekstual. (2026). BAZNAS Kabupaten Subang. https://kabsubang.baznas.go.id/artikel/show/siapa-saja-yang-berhak-menerima-zakat-memahami-8-asnaf-secara-kontekstual/35357
- Syarat dan Ketentuan Menjadi Amil Zakat. (2025) BAZNAS Kota Yogyakarta. https://baznas.jogjakota.go.id/detail/index/38756/syarat-dan-ketentuan-menjadi-amil-zakat-2025-03-19