- Konsep rezeki dalam Islam tidak terbatas pada uang yang dimiliki, tetapi juga bisa dalam bentuk lain, seperti kesehatan dan ilmu yang bermanfaat.
- Ada banyak amalan yang bisa dilakukan untuk membuka pintu rezeki, di antaranya memperbanyak istighfar dan bersedekah.
- Selain berikhtiar, rezeki juga dapat diusahakan melaui doa
Daftar Isi :
Setiap makhluk hidup yang bernapas di atas bumi ini telah dijamin rezekinya oleh Allah Swt. Dalam Surah Hud ayat 6, Allah menegaskan bahwa ”tidak satu pun makhluk bergerak dan bernyawa, yang melata, merayap atau berjalan di muka bumi ini melainkan semuanya telah dijamin Allah rezekinya. Semua makhluk itu diberi naluri dan kemampuan untuk mencari rezeki sesuai dengan fitrah kejadiannya.....”
Namun, tidak sedikit umat Islam yang menyempitkan makna rezeki hanya pada selembar uang, isi rekening, atau aset yang dimiliki. Padahal, makna rezeki dalam Islam jauh lebih luas dan mendalam.
Simak bagaimana konsep rezeki dalam Islam melalui informasi berikut ini!
Konsep Rezeki dalam Islam
Secara hakiki, rezeki mencakup segala hal yang membawa kebaikan, kesenangan, dan kemanfaatan bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Harta benda hanyalah sebagian kecil dari nikmat yang Allah Swt. turunkan.
Sebagaimana dikutip dari NU Online Lampung, ulama besar asal Mesir, Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi, mengungkapkan dalam kitab Tilka Hiya al-Arzaq bahwa cakupan rezeki terbagi menjadi empat tingkatan penting:
المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ وَالعَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ وَصَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أَنْوَاعِ الرِّزْقِ وَرِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ
"Harta adalah rezeki paling rendah, kesehatan adalah rezeki paling tinggi, anak yang saleh adalah rezeki paling utama, dan ridha Allah adalah rezeki yang paling sempurna."
Berikut penjelasan pada tiap tingkatan rezeki:
1. Harta Benda (Tingkatan Terendah)
Harta berada di tingkatan dasar karena dapat diberikan kepada siapa saja baik orang yang beriman maupun yang ingkar. Harta hanyalah alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan tujuan utama.
2. Kesehatan (Afiyah) (Tingkatan Tertinggi)
Kesehatan fisik dan jiwa memungkinkan seorang hamba untuk beribadah dan menikmati kehidupan dengan tenang. Melimpahnya harta tidak akan terasa nikmat tanpa raga yang sehat.
3. Anak Saleh dan Ilmu Bermanfaat (Jenis Rezeki Paling Utama)
Keturunan yang saleh serta ilmu yang berguna merupakan jenis rezeki yang paling utama. Keduanya adalah investasi akhirat yang dampaknya melintasi ruang dan waktu.
Ketika seseorang telah meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, di antaranya ilmu yang dimanfaatkan dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya (HR Muslim). Rezeki ini membawa keberkahan yang terus mengalir bahkan setelah kita berada di alam kubur.
4. Ridha Allah Swt. (Rezeki yang Sempurna)
Puncak dari seluruh nikmat dan pencapaian tertinggi seorang hamba adalah mendapatkan ridha dari Sang Pencipta.
Orang yang meraih ridha Allah Swt. akan senantiasa dianugerahi rasa cukup (qanaah) dan ketenangan jiwa yang hakiki, terlepas dari berapa banyak harta yang ia miliki. Ridha Allah inilah yang menjadi kunci utama jaminan kebahagiaan dan keselamatan abadi di akhirat kelak.
Baca juga: Doa Melunasi Utang dalam Islam, Arab, Latin, dan Artinya
Amalan untuk Membuka Pintu Rezeki
Meskipun rezeki telah dijamin, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar secara lahiriah dan batiniah. Berikut beberapa amalan pembuka pintu rezeki yang dianjurkan dalam Al-Qur'an dan Hadis:
- Banyak Perbanyak Istighfar dan Taubat Istighfar tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga menjadi kunci pembuka nikmat dari langit, sebagaimana firman Allah dalam Surah Nuh ayat 10–12.
- Meningkatkan Ketakwaan dan Tawakal Allah Swt. berjanji dalam Surah At-Talaq ayat 2–3, bahwa barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
- Menjaga dan Mempererat Tali Silaturahmi Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahmi (HR Bukhari & Muslim).
- Memperbanyak Bersedekah Sedekah tidak mengurangi harta, melainkan melipatgandakannya dan membersihkan nikmat yang ada (QS. Al-Baqarah: 261).
- Menjaga Salat Dhuha Salat Dhuha merupakan bentuk rasa syukur atas persendian tubuh dan amalan ikhtiar batin untuk memohon kecukupan di sepanjang hari.
Doa Pembuka Pintu Rezeki
Selain beramal dan bekerja keras, memanjatkan doa adalah bagian penting dari ikhtiar seorang Muslim.
1. Doa Rezeki yang Halal dan Bermanfaat
اللَّهُمَّ يَاغَنِيُّ يَا حَمِيْدُ يَا مُبْدِعُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَاوَدُودُ أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allaahumma inni as'aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi'an thayyiban min ghairi ta'bin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki untukku berupa rezeki yang halal, luas, dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan, dan tanpa meletihkan dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.
2. Doa Kecukupan Rezeki Halal
اَللّٰهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahummakfini bihalalika 'an haramika wa aghnini bifadhlika 'amman siwaka.
Artinya: "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal dari yang haram, dan perkayalah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu." (HR. Tirmidzi).
Dalam Islam, rezeki tidak hanya terbatas pada uang dan harta benda saja, tetapi bisa juga terwujud dalam bentuk-bentuk lain, seperti kesehatan fisik dan mental, ilmu yang bermanfaat, pasangan dan anak-anak yang saleh. Semua nikmat tersebut adalah wujud kasih sayang Allah Swt. yang patut kita syukuri setiap saat.
Ingin mempelajari topik keuangan Islami lainnya? Kunjungi Sharia Knowledge Centre by Prudential Syariah. Temukan berbagai informasi Islami menarik seputar keuangan, kesehatan, dan gaya hidup untuk tingkatkan wawasan Anda.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Janji Allah Swt. terhadap rezeki makhluk-Nya, semua tertera dalam Al-Qur’an salah satunya terdapat pada surat Ibrahim ayat 7:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Dilansir dari situs Kementerian Agama RI, ada beberapa perilaku buruk yang menjadi penghambat datangnya rezeki, antara lain:
- Berbuat dosa, terutama dosa berbohong;
- Terlalu banyak tidur, terutama setelah subuh;
- Makan dalam keadaan junub;
- Makan sambil berbaring;
- Mengabaikan makanan yang terjatuh di meja makan;
- Membakar kulit bawang putih atau bawang merah;
- Menyapu rumah dengan kain;
- Menyapu rumah di malam hari;
- Menyapu sampah tidak langsung dibuang;